Tes 123

Maret 5, 2012

Tes 123

Perjalanan Pulang Enschede – Yogyakarta

November 1, 2009

Setelah kurang lebih satu bulan lamanya mengunjungi istri yang sedang menjalani studi lanjut, tibalah saatnya untuk pulang.

Perjalanan dimulai dari stasiun Enschede.

IMG_0659

Baca entri selengkapnya »

Catatan Perjalanan Yogyakarta – Kuala Lumpur – Amsterdam – Enschede

September 16, 2009

Akhirnya setelah melalui 14,5 jam penerbangan, 8 jam transit, dan 2,5 jam perjalanan kereta api tiba juga di kota tujuan Enschede, NL. Perjalanan ini cukup istimewa buat saya, pertama karena mengunjungi istri setelah terpisah 1 tahun dan kedua karena ini perjalanan pertama saya melintasi batas wilayah Indonesia.

Perjalanan diawali dari Bandara Adisucipto Yogyakarta diantar oleh kedua orang tua. Proses check in dilakukan di counter Malaysia Airlines (MH) dengan menunjukkan tiket dan paspor, dapat nomor tempat duduk 26A, karena memang minta di jendela. Di counter check in ini juga diminta mengisi kartu imigrasi, yang terdiri dari dua lembar. Selanjutnya harus menunggu cukup lama untuk menanti bukanya ruang keberangkatan internasional. Sampai saat ini penerbangan internasional dari JOG memang masih sedikit, setahu saya baru ada Malaysia Airline dan Air Asia yang sama-sama ke Malaysia. Setelah membayar PSC (Passanger Service Charge) sebesar Rp 100.000, kemudian ke counter fiskal. Di sini dengan bukti fotokopi beberapa dokumen seperti NPWP, kartu keluarga, dan paspor maka di boarding pass diberi stiker bebas fiskal, sehingga terbebas dari kewajiban membayar fiskal Rp 2.500.000. Selanjutnya ke bagian imigrasi, di sini paspor dicap, kartu imigrasi bagian keberangkatan disobek sedangkan bagian kedatangan diserahkan kembali (untuk diserahkan ke bagian imigrasi saat kembali kelak), dan ditanya tentang maksud tujuan perjalanan. Setelah selesai semua lalu masuk ke ruang tunggu, yang jauh dari bayangan saya. Ruang tunggunya cukup mungil, mungkin kapasitasnya paling banyak hanya cukup untuk sejumlah penumpang pesawat B-737.

Pesawat yang ditumpangi adalah B-737 400, jadi tidak terlalu istimewa karena umum juga dipakai penerbangan dalam negeri. Sesampainya dalam pesawat ternyata penumpangnya tidak terlalu penuh jadi bisa pindah-pindah duduknuya. Begitu mengudara langsung makanan dibagikan, karena baru puasa jatah saya dimasukkan ke dalam plastik untuk buka. Perjalanan KUL-JOG memakan waktu kira-kira 2,5 jam dan sampainya di sana lebih cepat 10 menit dari jadwal seharusnya. Setibanya di KLIA (Kuala Lumpur International Airport) pesawat merapat di gate B (lupa nomor berapa). KLIA terdiri dari dua bagian besar, yaitu gate A, B, G, dan H yang nampaknya untuk penerbangan lokal dan regional serta gate C untuk penerbangan internasional. Agak bingung pada awalnya di KLIA, soalnya cukup luas, soalnya pengalaman ke bandara biasanya JOG atau BDJ yang tidak terlalu luas, atau paling besar CGK. Jadi supaya tidak keterusan bingungnya setelah lapor di Transfer Counter terus cari mushola sekalian istirahat. Tanya sama petugas ditunjukkan tempat sholat yang di situ diistilahkan sebagai surau. Setelah sholat lalu beristirahat, tidak jauh dari surau ada beberapa kursi yang cukup nyaman karena ada penopang kakinya (jadi ingat kereta api argo dwipangga), sambil menikmati lalu lalang pergerakan pesawat. Tidak lupa juga kirim kabar ke rumah dan ke istri. Kartu Halo yang saya pakai sudah saya registrasikan untuk international roaming, jadi bisa diaktifkan di sana dengan tarif sms sekitar Rp. 4000. Nantinya saya juga tahu ternyata Simpati bahkan tidak perlu diregistrasikan untuk international roaming.

Bosan duduk-duduk lalu berpindah ke bagian lain KLIA, yaitu gate C, tempat keberangkatan nantinya. Antara kedua bagian KLIA ini dihubungkan oleh 2 buah Aerotrain, yaitu berupa kereta monorel, yang berjalan bolak-balik. Ternyata di terminal keberangkatan ini relatif lebih ramai, lebih banyak toko dan gerai makanan. Sempat lihat novel terbarunya Dan Brown (judulnya lupa) tapi tidak tertarik karena kalau dirupiahkan mahal, mending nunggu terjemahannya saja. Mampir ke money changer, dikira sama petugasnya mau tukar banyak, padahal cuma tukar Rp 100.000 dan dapat RM 32 yang rencananya memang hanya beli minum.

Setelah berputar-putar windows shopping (alias cuma liat-liat doang) trus memutuskan untuk kembali ke terminal lokal dan regional lagi, karena tidak menemukan tempat yang cukup nyaman dan tenang untuk menunggu berbuka puasa, jadi kembali lagi ke dekat surau terminal lokal dan regional. Di sana dapat kenalan orang Myanmar, yang ternyata transitnya di KLIA harus dengan menginap. Dia terbang dari Jeddah ke KLIA untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Myanmar keesokan harinya. Saya kira waktu transit saya sudah lama, ternyata masih ada yang lebih lama lagi.

Akhirnya sampai juga waktu berbuka. Makanan utama nasi briyani ayam dari penerbangan sebelumnya ditambah lemon ice tea seharga RM 5 dan roti bekal dari JOG jadi menu berbuka. Setelah sholat dilanjutkan dengan menunggu sambil membaca Kompas dan Bola yang memang khusus disiapkan dari JOG. Jam 09.00 kembali menggunakan aerotrain menuju gate C37. Sesampainya di sana terjadi antrian panjang, yang ternyata untuk penerbangan ke Dhakka, sedangkan penumpang ke Amsterdam diminta menunggu di selasar terlebih dulu. Waktu menunggu kebetulan bertemu dengan dua orang Indonesia yang baru datang dari CGK dan akan sama- sama ke Amsterdam. Setelah ngobrol-ngobrol ternyata keduanya mendapat beasiswa untuk studi di Belanda, yang satu pelatihan 3 bulan di Vrije University (CMIIW kalau tulisannya salah) yang satu kuliah S2 di ITC Enschede, yang juga merupakan kota tujuan saya.Setelah menunggu beberapa saat dipersilakan untuk antri masuk ke ruang tunggu. Di sini dilakukan pemeriksaan kembali, cukup ketat karena dompet, jaket dan bahkan ikat pinggang harus diletakkan di wadah yang tersedia. Setelah itu dicek imigrasi lagi, karena saya hanya transit pemeriksaan tidak terlalu lama.

Setelah menunggu beberapa saat akhirnya terdengar panggilan untuk memasuki pesawat, kali ini jenis B-777 200. Konfigurasi tempat duduknya 2-5-2, saya kebagian di nomor 14A. Begitu mengudara makan (tengah) malam langsung dibagikan. Saya pilih menunya nasi kurma ayam dengan tomat. Walaupun namanya berbeda tetapi ternyata rasa dan aromanyanya tidak jauh berbeda dengan nasi briyani sebelumnya (juga dengan nasi lemang saat makan paginya). Nampaknya bumbu dasar ketiga masakan tersebut sama. Selama perjalanan ada fasilitas personal In Flight Entertainment. Isinya cukup bervariatif, dari film, acara TV, game, radio, audio dan informasi penerbangan (peta, kecepatan, ketinggian). Remote controlnya mengingatkan saya dengan stick untuk Nitendo Wii, lumayan untuk sedikit menghibur karena sulitnya saya untuk tidur dalam penerbangan kira-kira 12 jam.

Sesampainya di Schipol kurang lebih jam 6 waktu setempat. Setelah turun kemudian ke bagian imigrasi. Di sini antrian dibagi menjadi dua yaitu untuk penumpang berpaspor EU dan non EU. Di counter ini diserahkan paspor dan tidak lupa juga untuk disiapkan dokumen penunjang, misalnya untuk saya karena sifatnya adalah kunjungan keluarga adalah surat undangan beserta legalisasinya dari Gementee (Pemerintah Daerah setempat), bukti asuransi, dan tiket kembali. Selanjutnya menunggu keluarnya bagasi. Kemudian setelah bagasi lengkap keluar melewati random checking. Untuk diketahui untuk negara-negara EU terdapat larangan memasukkan daging (sapi dan ayam), susu beserta produk olahannya. Jadi petugas memeriksa semua bawaan penumpang yang dipilih secara acak. Beruntung ketika melewatinya sedang tidak ada petugas karena sedang sibuk memeriksa beberapa penumpang lainnya, padahal kami membawa beberapa makanan yang dapat dikategorikan terlarang tersebut, misalnya abon dan rendang. Di ruang kedatangan terdapat tangga ke lantai bawah tanah tempat stasiun kereta api yang melayani trayek ke seluruh Belanda dan bahkan ada beberapa yang dapat langsung ke beberapa negara tetangga. Setelah membeli tiket seharga EUR 23 per orang, keberuntungan kami berlanjut karena tidak perlu menunggu lama untuk keberangkatan kereta api langsung ke Enschede. Dan akhirnya setelah menempuh perjalanan selama kurang-lebih 2,5 jam tibalah kami di tujuan kami, Enschede.

Don’t Quit

April 6, 2009

When things go wrong, as they sometimes will,
when the road you’re trudging seems all uphill,
When the funds are low and the debts are high,
And you want to smile, but you have to sigh,
When care is pressing you down a bit,
Rest, if you must, but do not quit.

Life is queer with its twists and turns,
As every one of us sometimes learns,
And many a failure turns about,
When he might have won had he stuck it out;
Don’t give up though the pace seems slow—
You may succeed with another blow.

Often the goal is nearer than,
It seems to a faint and faltering man,
Often the struggler has given up,
When he might have captured the victor’s cup,
And he learned too late when the night slipped down,
How close he was to the golden crown.

Success is failure turned inside out—
The silver tint of the clouds of doubt,
And you never can tell how close you are,
It may be near when it seems so far,
So stick to the fight when you’re hardest hit—
It’s when things seem worst that you must not quit.

 

Don’t Quit by Quinton Howell (CMIIW)

Catatan Perjalanan Ke Blitar

Maret 13, 2009

Hari kamis (12/3) saya mendapat tugas sebagai tim promosi kampus ke Blitar untuk mengikuti Pameran Pendidikan yang diselenggarakan SMA N 1 Blitar. Perjalanan diawali dari kampus jam 7 malam, sampai di Blitar jam 3 pagi, dengan berhenti makan di daerah Sragen. Sesampainya di Blitar sempat bingung juga mencari hotel, karena blum punya referensi. Tapi akhirnya dapat juga tidak jauh dari alun2. Yang unik, karena kamarnya terbatas, bahkan tidurpun harus bergantian🙂

Paginya jam 7 sebagian anggota tim telah berangkat ke tempat pameran untuk menyiapkan peralatan pameran. Pameran berlangsung hingga jam 13.00, pesertanya cukup banyak, dari kami lebih dari 1000 pamflet yang dibagikan, masih ditambah beberapa doorprize, berupa jam dinding dan tas punggung.

Selesai pameran kami menyempatkan diri ke makam Bung Karno. Setelah sempat salah jalan sampailah kami di makam Bung Karno. Cukup jauh juga jarak dari tempat parkir hingga makam, mungkin hampir 1 km dan ditempuh dengan berjalan kaki. Saat masuk kompleks makam, ada petugas yang bertugas menjual tiket seharga Rp 1500 per orang. Setelah itu kami masuk makam dan berdoa. Selanjutnya kami masuk musium Bung Karno. Di sana terdapat lukisan yang unik, yaitu ke arah manapun kita berada, mata Bung Karno seolah-olah selalu memandang kita dan jika dilihat dari samping, seolah-olah terdapat detak jantung. Di musium tersebut juga terdapat banyak foto dan lukisan beliau selain juga barang-barang lain yang berhubungan dengan Bung Karno.

Selepas dari musium perjalanan di Blitar kami akhiri. Jam 17.00 kami berangkat dari Blitar dan Alhamdulillah jam 1 pagi sampai Yogyakarta.

Maret 4, 2009

pagi ini saya kedatangan tamu, rekan dari salah satu perusahaan penyedia peralatan otomasi industri. Waktu saya tanya tentang krisis global ini, beliau menjawab bahwa secara global memang penjualan perusahaan tempatnya bekerja mengalami penurunan yang cukup besar. Misal untuk cabang negara tetangga penjualan untuk tahun ini turun bisa mencapai 40-50 % dibandingkan periode yang sama untuk tahun 2008. Namun untuk penjualan lokal penurunan yang terjadi tidaklah sebanyak itu, berkisar 10-15 % saja.

Salah satu penyebabnya menurut beliau adalah karena jumlah penduduk Indonesia yang besar, menjadi pasar untuk hasil produksi perusahaan di Indonesia. Hal ini juga ditunjang dengan industri di Indonesia yang 80% menghasilkan barang jadi, dalam artian consumer product yang langsung dibeli konsumen, bukan produk penunjang industri, misalnya mesin-mesin industri. Kedua hal tersebut turut berperan dalam sedikit menyelamatkan keadaan perekonomian Indonesia di saat krisis global ini, ditambah juga bahwa tahun ini adalah tahun pemilu, yang turut menyebabkan konsumsi bertambah.

Saya jadi berpikir, hal-hal yang terkadang menjadi kelemahan, pada saat-saat tertentu memang bisa menjadi keuntungan. Sebelumnya saya berpikir, pemilu kali ini pasti akan menghabiskan biaya yang besar sekali, tapi ternyata itu bisa membuat kegiatan perekonomian lokal tetap berjalan. kemudian juga bahwa banyak kritikan di Indonesia kurang sekali industri barang modal, tapi ternyata di saat kondisi sekarang ini, saat tidak banyak investasi yang dilakukan industri consumer product relatif belum banyak dipengaruhi oleh krisis.

Semoga saja kita semua dapat bertahan dalam menghadapi kesulitan-kesulitan ini.

tes menampilkan video

Maret 1, 2009

catatan hari ini

Februari 16, 2009

terkadang kita ingin orang lain menjadi seperti yang kita harapkan, tetapi kita sering lupa bahwa belum tentu itu yang terbaik untuknya

catatan hari ini

Februari 16, 2009

teguran orang lain adalah pelajaran untuk kita supaya menjadi orang yang lebih baik

trio penyerang barcelona beraksi kembai

Januari 19, 2009

sabtu kemarin Barcelona menang lagi lawam Deportivo La Coruna, kali ini skornya 5-0. semua penyerangnya buat gol, messi, henry (2), dan eto’o(2).
ada hal yang menarik setiap saat Barcelona mencetak gol adalah mereka sll merayakannya bersama2. secara khusus pencetak gol juga memberikan apresiasi kepada pengumpannya. hal ini mungkin berbeda dengan banyak pemain dari tim lain, yang bahkan kalo setelah mencetak gol ada yang pasang tampang jutek dan menjauhi rekan2nya.
dng cara spt itu terlihat bahwa para pemain barcelona menikmati permainan sepak bola.


Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.